Sketsa Pemimpin Kita yang Seharusnya

278737_239441552742162_100000289576138_992509_7866249_o

Oleh :Askhabul Kahfi Fak. Ekonomi Manajemen VB

Kuatnya arus globalisasi yang dimotori oleh negara-negara maju telah memberikan dampak perubahan sosial di negara-negara berkembang. Perubahan tersebut tidak saja berdampak pada perubahan sistem ekonomi negara, tetapi juga mengikis kebudayaan serta tradisionalisme dalam kehidupan masyarakat. Nasionalisme kita pada setiap zamannya mengalami berbagai tantangan yang berbeda, namun memiliki pola yang sama. Akan tetapi tidak banyak pemimpin yang mampu menjawab tantangan tersebut. Krisis kepemimpinan yang memiliki karakter Nasionalisme adalah permasalahannya.

 

Ketika dihadapkan pada isu keagamaan misalnya, pemimpin kita kadang masih saling beradu pendapat tanpa menemukan titik temu penyelesaian. Padahal bunyi sila pertama dalam pancasila begitu gamblang menjelaskan, bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang berketuhanan. Akan tetapi beberapa kelompok keagamaan dengan mengatasnamakan agama dan tuhannya tak segan menghakimi kelompok bekepercayaan minoritas. Lebih parahnya lagi, sikap pemerintah yang terkadang mendukung langkah yang dilakukan kelompok-kelompok tersebut. Sedangkan sila pertama dalam pancasila tak berhenti pada bunyi ketuhanan saja, namun berlanjut pada kata ”Yang Maha Esa,” yang bisa diartikan keyakinan seseorang tak bisa digangu gugat ketika menyakini sesuatu yang ‘baginya esa’ yakni tuhannya.

 

Dari fenomena tersebut, nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab kini seakan hanya menjadi pepesan kosong. Acapkali pemimpin kita lebih tertarik mendramatisir kejadian tersebut dengan retorika yang menjemukan di media massa. Padahal dalam kebanyakan alam pikir masyarakat awam, banyak muncul pertanyaan yang hampir sama yakni “apakah keadilan hanya milik mayoritas yang sah melakukan penghakiman di luar Negara ?, Ataukah keadilan hanya milik mereka yang memiliki kuasa dan modal besar untuk menyuap institusi ?. Bisa dikatakan, bahwa etika keadilan beradab yang dimiliki bangsa saat ini hanya sebatas dongeng bagi seorang anak kecil akan ditidurkan oleh orang tuanya.

 

Memang, jika kita berpikir sedikit jauh kedepan tentang pemahaman persatuan berlandaskan berbagai pertikaian yang terjadi, maka persatuan yang ada pada pikiran kita tentang Indonesia hanya ada pada lagu “Dari Sabang Sampai Merauke,” dimana hanya pulau-pulaunya yang bersatu, tetapi tidak dengan entitas kebangsaanya. Seolah perbedaan yang ada sangat sulit untuk benar-benar disatukan dalam sebuah tempat bernama “Indonesia.”

 

Diujung tanduk dari berbagai permasalahan bangsa ini, adalah semua berharap akan hadirnya pemimpin yang merakyat, serta benar-benar bijaksana tanpa rekayasa oleh hasil poling dan pencitraan media massa. Pemimpin berkarakter yang berani berkata tegas pada sesuatu yang akan merugikan bangsa dan negaranya. Seperti ketika bung Karno menolak bantuan asing dengan kata-kata “go to hell with your aid,”. Atau ketika bung Karno dengan lantang berkata “Ganyang Malaysia,” saat merasa harga diri bangsanya dihina oleh bangsa lain.

 

Disisi lain, tentu kita semua rindu akan hadirnya sosok pemimpin yang tegas serta memiliki rasa keadilan tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia. Pemimpin yang adil melebihi hakim agung yang pernah ada. Bolehlah kita bermimpi untuk berharap bahwa suatu saat akan hadir pemimpin seperti itu ?. Dimana dalam tindakanya selalu tercermin nuansa ke-Indonesia dan tidak menjadikan isu SARA sebagai isu politiknya ?. Pemimpin yang memilih mengedepankan musyawarah dengan gagasan cerdas untuk memecahkan permasalahan kebangsaan yang dihadapi, serta berlaku humanis pada setiap rakyatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s