Haruskah Kita Terpisah

by : Mas IIIa

Sendiri …

Sendiri ku terdiam …

Diam dan merenung …

Merenung kan membawaku pergi …

Pergi tuk menjauh …

Menjauh darimu yang mulai berhenti …

Berhenti mencoba …

Mencoba bertahan …

Bertahan untuk trus bersamaku …

Ku berlari kau terdiam

Ku menangis kau tersenyum

Ku berduka kau bahagia

Ku pergi kau kembali

Ku mencoba meraih mimpi

Kau coba tuk hentikan mimpi

Memang kita tak kan menyatu … …

Alunan musik begitu lembut di headphone bluetooth yang ku pasang di telingaku sambil merenung di bawah gubuk kecil tempat dimana ku berteduh dari tetesan hujan lebat yang membasahi sebagian tubuhku.

Disela – sela hujan lebat yang membasahi dedaunan di pohon-pohon jati, aku terbayang kembali ketika dulu pertama kali bertemu dengan dia di gedung hijau bertingkat tempatku menimba ilmu. Dikala itu dia duduk bersama teman-temanmu dan di sampingnya terdapat bangku kosong. Ku coba beranikan untuk menyapanya dan memulai pembicaraan dengan penuh hangat dan bergairah. “Miya” itulah namanya yang ku dapat. Sebenarnya perkenalan itu wajar karena aku adalah anak baru di kelas itu, namun perkenalan itu berlanjut pada obrolan-obrolan di telephone dan sms-sms yang selalu mewarnai hari-hariku yang semakin lama menambah keakraban antara kita.

Hingga suatu hari hatiku selalu resah entah tak tahu kenapa. Aku coba curhat ke sahabatku dia mengatakan kalau aku sedang jatuh hati, dan berhari-hari aku pendam perasaan ini sampai tak kuasa dan ku telephone dia … “Miya …, aku telah jatuh hati padamu, apa kamu mengijinkan aku untuk ikut mewarnai kehidupanmu dengan menerimaku sebagai kekasihmu yang terakhir..?”, Pintaku dengan lembut. Dia pun berbicara ” hah…maaf mas, aku gak bisa, terlalu cepat mas, aku ingin sendiri dulu…” langsung aku potong, ” tapi … aku benar-benar ingin serius …”, dia pun memotong kembali, “Mas, aku pernah terluka karena cinta dan aku tidak mau mempercayai cowok lagi..”. Dan aku kembali meyakinkan, “Aku turut bersedih atas semua yang telah menimpamu tapi aku bukan cowok seperti itu … “. Dia menjawab ,”Mas semua cowok telah berkata begitu padaku dan pada akhirnya aku yang sakit, biarkan di bulan November ini seperti bulan November di tahun-tahun kemarin, aku ingin sendiri dulu mas …”. Aku pun terdiam sesaat dan menanyakan lagi, “Miya … jika engkau memang masih terluka karena cinta dan tidak percaya lagi kalau ketulusan masih ada, maka ijinkan aku untuk membuktikannya …” Dan dia akhirnya menyetujuinya.

Hari-hari telah terlewati bersama, di pantai, di sekolah, di alun-alun kita tuangkan beragam rasa dan penat hingga dia seakan-akan telah lupa dalam kesedihannya selama ini. Dan samapai suatu hari di telah jatuh hati kembali,dia jatuh hati tidak padaku tapi pada cowok lain, Dan mulai saat itu hatiku mulai sakit secara pelan-pelan tapi pasti. Saat itu ku terpikir apa aku harus pergi menjauh atau aku tetap bertahan, status kita memang telah berpacaran dan itu semua membuatku rapuh, bimbang dan perih. Aku sangat menyayanginya tapi aku harus mengalah demi kebahagiaanya. Berkali-kali dia meminta maaf kepadaku atas semua kesalahannya dan aku selalu memaafkannya. Aku berfikir hanya satu yang selalu dapat membuatku kuat, sabar, dan bertahan karena dia pernah berkata “Yank, maaf jika selalu menyakitimu, aku sadar dan nanti ini semua akan berakhir dengan indah.” Kata-kata itu yang selalu mendinginkan suasana hatiku dan berlanjut pada suatu hari, Aku, dia dan seorang cowok menanyakan hubunganku dengan dia, dia memang menjawab kita gak ada apa-apa dan aku pun meng-iyakan bahwa gak apa-apa. Kesakitanku terulang kembali, tapi aku tetap bertahan, mungkn aku manusia terbodoh tapi aku tak ingin merusak kebahagiaanya.Aku bingung apa yang harus aku lakukan saat itu,tak pikir panjang ku ambil silet di meja belajarku, aku coba goreskan  di tangan, darah pun mengalir menetes di plantai dan mencoba mengakhiri hidupku namun aku terpikir, meski aku telah tiada itupun tak mengubah segalanya dan selanjutnya aku putuskan untuk mendoakannya …

“Ya tuhan …
Aku sangat menyayanginya …
Mungkin Engkau tak berpihak padaku
atau mungkin aku menyayangi orang yang salah …?
tapi aku harus bersabar …
kuatkan aku Tuhan …
jagalah dia untukku
semoga aku dan dia di beri jalan terbaik
amiin …”

Aku usap mukaku dan bersihkan darah yang lama mengalir di tanganku, kuambil perban dan ku balut secara perlahan. Saat itu ingat juga sehari sebelum ultahnya, aku yang masih memendam rasa sakit tetap kembali mencoba menunjukkan ketulusan itu masih ada. Di malam harinya itu, aku coba buat sedikit kejutan untuknya, tepat di depan rumahnya, aku tancapkan beberapa lilin di jalan kecil menunju rumahnya sebanyak tanggal lahirnya. Aku hiraukan tiupan dingin udara malam yang berembus, dan kiranya Tuhan tahu kalau aku benar-benar tulus dengan pertanda tidak diturunkan hujan padahal saat itu adalah musim hujan. Lalu aku mulai berjalan perlahan, kado di tangan kiriku dan kue di tangan kananku serta musik hape yang berbunyi “happy birthday to you,,” berkali-kali yang kurekam sendiri dari suaraku yang fals, hingga tetangga melihatku namun aku tak peduli aku tetap berjalan sampai ke depan pintu rumahnya dan dia keluar bersama saudaranya. Dia pun tersenyum lebar memenuhi setiap sudut mulut dari muka mungilnya yang manis. Lalu dia tiup lilin yang ada di kue yang ada di tanganku dan lalu aku difoto dari hape nokianya. Bahagia rasanya meski hatiku sebenarnya masih tercabik-cabik luka inilah ketulusan yang bisa ku tunjukkan dan aku masih ingat saat sebelum meniup lilin dia sempat bertanya,”lho kok sekarang..? ultahku kan besok ?“, dan aku menjawab ,”Maaf, bukan karna aku tidak ingat tapi karena aku sengaja, aku ingin jadi yang pertama dalam mengucapkan Happy birthday yank …,aku juga ingin yang pertama dalam merayakan moment yang sangat berharga ini…I love you …”

Setelah moment itu hubungan kita semakin dekat dan November telah terlewati, dan Desember pun telah tiba, hari-hari kemarin saat canda,senyum,ejek-ejekan,senda gurau tawa, melakukan hal nekat dan hebat bersama saat seperti hal nekat ke pantai bareng berujung dimarahi lantaran pulangnya telat aku ingat benar dia telah berkata dalam SMS, “peand baiik bangett mas ,,, charus.na peand dpett cweg iiangk baik uga … gag kyag akk …”, Sms itu mungkn pertanda dari Tuhan. Aku harus menelan kepahitannya, Dia telah menemukan sesosok lelaki idaman yang selalu membuatnya lebih bahagia tanpaku …

“… Bayangkan …
bayangkan kuhilang …
hilang tak kembali …
kembali tuk mempertanyakan lagi cinta …
cintaku yang mungkin …
mungkin tak berati …
berati untuk kurindukan …
kini kita harus saling lupakan …
lupakan kita pernah bersama …”

Musik dari “Cakra Khan” itu terhenti dan aku tersadar dalam lamunanku, hujan juga telah berhenti, “… tulilut…tulilut …” hapeku berbunyi memecahkan keheningan di tengah hutan dan nampaknya alarm pengingat di hapeku memerintah untuk membaca lagi SMS dia yang lama tersimpan dalam folderku …

“Hidup Layakx sedertn kata yg hax menyisakn beberpa spasi …
Trkdang qt buth koma, tuk mengistirahtkn prjlnn qt …
Sringkli mncuL tnda tax , dsaat qt khLangn arah …
Sskali qt jg menghdirkn tnda seru, Ktika kxtaan tdk sesai dgn yg qt hrapkn ..
Qt sdar bhw prjlnn ni trkdag buth peta & cattan yg snntiasa mmbri ptnjuk Sbg evaluasi jLan qt …
Tp ,,,
ykinlh bhw titik bkan akhr dr sglax, krn ada bxk kta yg hrs qt untai mnjdi sbuah khidupn yg indah …!”

Rangkaian kata-kata sms ini kubaca lagi berulang-ulang hingga tak terasa air mata menetes membasahi pipiku …, tak kusangka, tak ku duga kenapa aku bisa menangis padahal aku yang biasa dikenal tegar,lucu, tertawa, periang setiap  saat. “Sebenarnya adakah perasaan sayang padaku…?, apakah masih adakah waktu untuk kembali bersama ataukah sudah terlambat ? ataukah memang kita harus berpisah ?” Pertanyaan itu memenuhi pikiranku menambah sesak nafas dalam perjalanan kepulanganku, hingga tiba-tiba … “…Braaaakkk … … !!?”, tak tahu apa yang terjadi, seluruh tubuhku tak bisa bergerak, cuma ada di benakku ingin mengucap “Miya … aku selalu mencintaimu, seperti ibuku ajarkan padaku …”. Mataku mulai terasa berat, pemandangan hutan mulai mengecil, kegelapan di siang hari mulai menyempit, kesepian dan kehampaan merasuki jiwaku, aku berusaha untuk tersenyum kecil sedang langit mulai menyempit dan hatiku bergumam,” Inikah yang kau maksudkan di ucapanmu dulu ? Berakhir dengan indah …” 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s