DINDING BERDARAH

“Semangat! Semangat! Semangat!”, teriakku pada diriku sendiri. Tetapi ocehanku itu terhenti ketika melihat seseorang yang kucari dari tadi sudah ada di depanku. “Van… Novaaan…!” teriakku. Aku melihatnya mulai menghentikan langkah sembari berbalik ke belakang.

“Oh, kamu Nel, ada apa?”

“Hmmm, kamu mau kemana lagi? Dari tadi dicari Bu Nurul”, tanyaku dengan nafas terengah-engah. Tapi ia belum menjawab apa-apa.

“Oh ya, hari ini kantor majalah kita pindah ke gedung pojok, yang sebelah kantor BEM itu kan?,” aku bertanya lagi sebelum Novan menjawab sepatah katapun.

“Iya, aku sudah tahu. Kalian sama anak-anak dulu, aku ntar nyusul,” jawabnya kemudian.

“Emangnya mau kemana?”

“Sebentar. Aku mau menemui Pak Yanto, Dosen Tehnik Informatika. Beliau meminta aku mengambil softcopy artikel. Katanya sih opininya ingin dimuat. Hehe. Oh ya. Nel, tolong kamu hubungi lagi anak-anak ya, semalam sudah aku SMS, kok. Soalnya untuk pemindahan barang-barang dan majalah butuh tenaga anak cowok. Selanjutnya kita renovasi bareng-bareng yang sekiranya perlu untuk ditata,” jelasnya panjang lebar.

“OK, Boss…”

“Emmm, tadi kamu bilang aku dicari Bu Nurul. Ada apa ya beliau memanggilku?”

“Nggak tahu. Mungkin ngomong masalah kantor baru yang akan kita tempati nanti. Ya udahlah… cepat kamu ke ruang rektorat! Oh ya satu lagi. Van, aku baru saja selesai meliput berita dari Kampus Paciran. Tapi dokumentasinya belum. Kan kameranya ada di kamu”, jelasku.

“Iya, gampang. Nanti minta fotonya lewat email aja”, jawabnya lagi.

Kami pun melangkah berlawanan. Tak lama kemudian datang Lilik, Heny, Tian dan disusul Munir. Kami pun mulai bekerja membersihkan dan menata ruangan yang layaknya gudang itu.

“Wah… ini lumayan juga untuk ruang rapat kita”, kata Lilik. “Hanya saja kotor dan tidak terawat”, tambahnya lagi.

“Iya… selama ini kan kita rapatnya di ruang rektorat. Sekarang ayo kita bersihkan… Semangat!!!”, seru Tian.

“Tapi agak gelap ya… aku agak takut nihh”, Kata Heny dengan cepat mendekat ke arahku.

“Ya iya, emang agak gelap, ‘kan belum ada lampunya. Namanya juga ruangan tak terpakai”, jawabku. “Eh, ada almarinya juga ternyata. Nahh! Kebetulan kita juga butuh almari yang besar seperti ini. Mas Munir, tolong dong Mas, kamu angkat barang-barang kita dari ruang rektorat. Biar kita yang membersihkan ruangan ini.

“Yee… kok aku sendiri???

“Cuma kamu ‘kan cowok di sini? Masak cewek yang angkat-angkat?”, sindir Lilik.

“Iya. Cepetan Mas, biar nggak lama-lama. Sebentar lagi juga ada Novan.”, cetusku.

Kami berempat akhirnya disibukkan oleh pekerjaan renovasi ruangan. Sementara yang lain membersihkan lantai dan jendela, aku mendekati almari besar di sudut ruangan. “Cukup besar”, gumamku. Aku lihat masih ada kunci dengan gantungan Doraemon yang masih melekat. Aku mulai membuka almari itu dan kulihat beberapa perkakas tua yang tidak tertata. Ada tumpukan buku dan diatasnya terdapat kain kusam. Ingin kukeluarkan barang-barang itu untuk kutata kembali. Tapi aku menjerit ketika tanganku meraih kain itu.

“Aaaahh…”, aku tersentak hingga membuat yang lain menoleh ke arahku.

“Ada apa, Nel??”, tanya Tian.

“Eh, nggak… nggak ada apa-apa kok. Ini… kecoak nakal”, jawabku terbata-bata.

“Aduh Nela… kamu itu ngagetin kita saja, hemmmmh… kirain ada apa-apa, ternyata cuma kecoak”, kata Heny.

“Ya udah, ya udah… kita lanjutkan lagi”.

Aku sengaja tidak memberitahu mereka tentang kain yang berlumuran darah itu. Meskipun sudah kering dan tidak berbau, namun aku yakin bahwa itu adalah darah. Entah darah luka seseorang atau binatang, aku juga tidak tahu. Segera kuselipkan kain itu dibawah almari.

Tak lama setelah itu, tiba-tiba Heny bertingkah layaknya orang kesurupan. Aku kira dia bercanda tapi tubuhnya panas dingin dan matanya melotot, berteriak-teriak sangat tidak wajar. Kami semua panik.

“Hen… Heny, kamu ini kenapa?”, tanyaku sambil menggenggam tangannya yang mengepal. Kami mencoba menenangkan Heny. Tapi ia malah pingsan. Sementara itu, Lilik keluar ruangan meminta bantuan. Beberapa saat kemudian, Heny siuman. Kami pun mulai resah setelah kejadian itu.

***

Pukul 21.30 WIB. aku baru tiba di rumah karena banyak yang harus kuselesaikan di kampus. Langsung saja kurebahkan tubuhku di kamar tidur. Sungguh hari yang melelahkan. Rasanya kepala ini mau pecah. Yaaa… beginilah memang kalau harus kuliah sambil kerja. Belum lagi harus lembur karena dikejar deadline.

Every time you commit one more mistake

You feel you can’t repent and that it’s way too late

You’re so confused wrong decisions you have made

Haunt your mind and your heart is full of shame

But don’t despair and never lose hope

’cause Allah is always by your side

(Insya Allah-Maherzein)

 

Alunan itu sepertinya aku kenal. Benar. Itu nada sms dari HP yang baru saja kuletakkan di atas meja. Ternyata Novan, teman di UKM majalah menyuruh aku datang ke kampus, katanya ada yang harus diliput untuk edisi majalah kali ini. Ini sudah larut malam, tapi kenapa masih saja memintaku datang kesana. Padahal kalau nguber berita sendiri kan bisa tanpa harus ada aku. Hmmm… Tak seperti biasanya dia begitu.

Tanpa kujawab sms itu, aku langsung menuju ke lokasi. Mataku sudah setengah ngantuk hingga sempoyongan langkahku. Sesampainya di sana, tak seorang pun aku lihat. Benar-benar suasana yang sangat mencekam. Rasa takut sempat melintas dalam pikiranku. “Yang lain pada kemana ya, katanya ada acara tapi kok sepi???”, pikirku.

Aku tetap mencoba memasuki gerbang hijau itu. Kuhilangkan rasa was-was dan perasaan lain yang membuat aku bertambah merinding. Aku berfikir mungkin beginilah suasana kampus di malam hari. Sambil berjalan pelan, kurogoh kunci kantor dari dalam tasku. Kudekati pintu dan mulai membukanya. Aku tercengang setelah apa yang kudapati malam itu. Sesosok wanita berambut panjang di pojok almari besar yang kurapikan tadi siang. Tubuhku bercucuran keringat. Tangan dan kakiku bergetar. Hanya nafasku yang terdengar sangat kuat dan tak beraturan.

“Tolong aku…”, pintanya sangat pelan. “Nela…… Nela…… tolong keluarkan aku dari sini……”, dia memanggil namaku berulang-ulang. Tak pernah kubayangkan makhluk seperti itu muncul di hadapanku. Seketika itu juga di dalam fikiranku tergambar peristiwa pembunuhan yang sangat menyeramkan. Aku melihat darah, anak perempuan dan laki-laki setengah baya. Aku menjerit sekuat tenaga.

“Nel, Nela… kamu kenapa, Nak? Nel… Bangun!”

Suara itu tidak asing kudengar. Tiba-tiba mataku terbuka dan kulihat ibu yang berusaha membangunkanku. “Astaghfirullah, cuma mimpi”. Ini kali ke-dua aku memimpikan sosok perempuan itu.

“Nel, kenapa kamu? Mimpi buruk lagi??”

“I… iya, Bu.”, kataku yang masih setengah ketakutan.

“Mungkin kamu terlalu capek dan banyak fikiran, makanya mimpi buruk terus”

“Emm… jam berapa ini, Bu?”

“Jam 2. Kamu gak sholat dulu?”.

“Ibu duluan saja”, jawabku singkat.

Aku diam sesaat. Mataku tak lagi sepet setelah terbangun dari mimpi yang mengerikan itu. Bagaimana tidak, suara itu masih berdengung di telinga. Apa yang baru saja kulihat masih melekat di benakku.

Aku raih selimutku yang berantakan, lalu aku ambil air wudhu dan menunaikan sholat 2 rakaat. Usai itu, kurebahkan kepalaku di atas sajadah, dengan mukenah yang masih kukenakan.

“Ya Allah… kenapa aku mimpi seperti itu? Siapa perempuan itu? Kenapa dia ada lagi di mimpiku?”, gumamku.

Kepalaku mulai sakit. Badanku panas, mungkin terlalu kecapekan dan kurang istirahat. Kupejamkan saja mataku agar aku bisa tidur lagi.

Lagi-lagi perempuan itu melintas di tidurku. Aku sangat ketakutan. Aku benar-benar ketakutan hingga pagi itu gempar karena teriakanku.

“Tidak… jangan, jangan…..!!!”, seketika itu juga aku terbangun oleh teriakanku sendiri.

“Nela, kamu ini kenapa lagi?”. Sambil mengusap keringat di dahiku”. “Ya Allah, badan kamu panas sekali!”.

“Bu, Ibu di sini saja. Aku takut”.

“Lho, ini sudah jam 5 pagi, Nel”.

Tanpa berfikir panjang, kuhubungi Novan dan kuminta ia ke rumahku secepatnya. Tak lama setelah itu Novan pun datang.

“Nela, ada apa?”

“Van, aku minta tolong. Tolong antar aku ke kampus sekarang. Perasaanku gak enak setelah ruangan majalah kita yang baru.

“Iya, aku tahu. Tapi kenapa mesti sekarang? Trus kamu mau apa?”

“Aku dua hari ini mimpi seram terus. Aku lihat perempuan, darah, dan…”

“OK, ya, iya. Tapi kamu jangan ceroboh. Kita ke sana cuma memastikan saja kalau kantor majalah kita baik-baik saja. Mungkin kamu itu cuma terbawa mimpi”.

“Sudahlah terserah. Pokoknya aku minta tolong sama kamu, temani aku ke sana”.

“Iya… tapi kamu tenang, Nel.”, kata Novan.

Aku menghela nafas panjang, diam sesaat dan segera bergegas. Dia membuntuti langkahku.

Setiba di sana, kulihat penjaga kampus tengah membaca koran. Dia melirik ke arah kami yang nampak tergesa-gesa. Namun tetap pada posisi duduknya yang santai.

Aku berlari ke kantor majalah dan diikuti Novan di belakangku.

“Nela…! Nela…! sabar. Kamu tenang dulu kenapa?”

Aku menyadari diriku yang tak sabaran dan langsung menyerahkan kunci pada lelaki yang ada di sebelahku itu. Dia tahu maksudku dan dibukanya pintu itu dengan pelan. Aku mulai masuk ke dalam ruangan. Setengah gemetar anggota gerak atasku memegang daun pintu almari besar yang kumaksud. Kucoba menggesernya sangat kuat, namun tak bergerak sedikitpun.

“Van, bantu aku, cepat!”

“Wah Nel, ini sangat ebrat. Aku minta bantuan anak-anak UKM dulu. Kamu duduk saja di sini. Sebentar ya…”, sambil melirik ke luar dan bertolak dari tempat kami berdiri.

Tak lama kemudian, Novan kembali dengan Mas Nanang dan Mas Haris yang kebetulan ada di depan ruang BEM.

Kami berempat mulai beraksi. Namun tiba-tiba kami dikejutkan oleh pria bertubuh besar dan kekar dari arah Pos sudut kampus, tak lain adalah Penjaga kampus. Memang ruangan majalah berada tak jauh dari tempat itu hingga dari kejauhan cukup nampak apa yang kami kerjakan di sana jika pintunya terbuka.

“Eh, ada apa ini?”, tanyanya kemudian.

“Em… enggak Pak. Kami cuma mau memindahkan almari besar ini. Sekarang kan ruangan ini ditempati anak UKM majalah.

“Iya. Tapi nggak perlu memindahkan almari itu. Biarkan saja di pojok ruangan situ. Lagi pula itu ‘kan tidak mengganggu”.

“Tapi… Pak, ada yang aneh dengan almari itu. Aku cuma ingin memindahkannya ke sebelah sini”, aku menunjuk ke sudut sebelah kiriku.

“Pokoknya tidak boleh!”

“Enggak, Van. Perasaanku tidak tenang dengan keberadaan almari itu. Aku ingin tahu apa yang menyebabkan ini semua terjadi, Heny yang kemarin kesurupan, darah, dan bayangan mimpiku itu. Aku nggak mau gini, aku cuma ingin tahu apa dibalik almari itu… aku…”

“Iya, Nel. Iya. Kamu sabar, tenang…”, kata Novan yang mencoba menenangkan aku untuk kesekian kalinya. “Pak Narno, kami cuma ingin memindahkan almari itu. Kita nggak mungkin lah Pak merusak barang-barang atau apa. Jadi boleh kan, Pak?”, pinta Novan.

“Hey… kamu ini berani ya menentang?”

“Apa!?? kenapa Bapak melarang saya? Apa alasannya?”, tanyaku bersikeras.

Cukup tegang saat itu, hingga membuat beberapa anak UKM lain yang biasa nongkrong di kampus itu pun ingin melihat apa yang terjadi.

Aku terus bersikeras. Tetapi Pak Narno tidak mau kalah. Ia mendekati ke almari itu, berbalik dan membelakanginya. Tangannya berusaha agar siapapun tidak mendekat.

Aku tetap pada tujuan awalku untuk melihat apa yang ada di balik almari itu. Untung saja aku tak sendirian. Novan, Mas Nanang dan Mas Haris mau membantuku menggeser almari itu. Pak Narno kuwalahan untuk bertahan di posisinya yang masih mempertahankan almari. Tentu saja Walau berat, tapi akhirnya kami berhasil. Namun ada hal yang membuat kami

“Aaaaaa…. Ahhh…… Aaaaaa…………..”, aku menjerit histeris. Seketika itu meloncat dan berpaling. Aku begitu terkejut melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang terjadi di dalam sana. Tulang belulang manusia yang berantakan dengan pembungkus kainnya.  yang juga sudah kocar-kacir longsor pada dinding gempuran yang ada di balik almari.

Semua pun ikut kaget dan tercengang menyaksikan robohnya balik almari tua itu. Lalu menoreh ke arah Pak Narno yang hanya berdiri. Mukanya tampak berkeringat. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhku lemas, mataku tak sanggup menahan isak tangisku yang bercampur ketakutan.

“Katakan, Pak. Apa yang sudah terjadi?”, kata Novan kepada Pak Narno. Aku hanya menangis. Sementara Pak Narno yang semula berontak, sekarang hanya diam, tak menjawab apapun pertanyaan yang dilontarkan padanya.

Novan menuntunku menjauhi ruangan itu. Tak lama kemudian kudengar mobil polisi yang berdatangan. Tapi aku tak tahu lagi apa yang terjadi kemudian. Tubuhku lemas, mataku kabur dan semakin lama semakin gelap.

Aku merasa di sekitarku banyak orang yang berbisik. Ku buka mataku perlahan dan aku tersentak melihat Tian, Heny, dan Lilik yang memandang ke arahku. “Dimana? Dimana mayat itu? Dan dimana aku sekarang?”

“Nel… Kamu sekarang di rumah. Sudah, jangan berfikir yang macam-macam dulu. sekarang kamu istirahat saja.

“Lho, kok kalian. Mana Novan?”, tanyaku lagi.

“Novan masih di luar. Kamu tadi pingsan Nel. Sudah, jangan khawatir. Polisi masih menyelidiki kasus ini.

“Ya Allah, ternyata Pak Narno di balik semua ini”, kata Lilik dengan nada lirih.

Aku menghela nafas. Rasanya seperti mimpi, tapi aku sadar inilah yang terjadi dan kualami. Suasana kampus yang semula sepi karena di hari Minggu, berubah ramai karena peristiwa mengerikan itu.

Sungguh hari itu adalah hari yang mengerikan bagiku. Ini akan menjadi cerita akhir tahun yang mengenaskan. Tetapi aku lega karena semuanya telah selesai. Tinggal aku mengawali bergantinya tahun 2013 ini dengan semangat baru. Mencoba untuk mengubah dunia dengan hal-hal yang lebih baik satu per satu. Insya Allah…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s