KONSEP IMAN DAN KAFIR MENURUT AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH (VIII)

Oleh : Prof. Dr. Kyai. H. Achmad Mudlor SH.

(Rektor Universitas Islam Lamongan)

Pembina Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang

p_1207094995

Dari beberapa literatur yang membahas masalah iman dan kafir oleh beberapa aliran yang ada di lingkungan agama islam, umumnya menyangkut 3 unsur iman yaitu: tasdiq bil qolbi yaitu (membenarkan dengan hati), iqrar bil lisan (pernyataan dengan lisan), dan amal bil arkan (mengamalkan sesuai dengan rukunnya). Dalam hal ini masing-masing aliran memiliki perbedaan sikap dalam menentukan unsur-unsur tersebut sebagai unsur prinsip dan integral dari unsur-unsur iman.

Misalnya aliran khowarij, bahwa iman bukan sekedar tasdiq bil qolbi (pengakuan dengan hati) terhadap keesaan Allah, tetapi amalpun merupakan unsur mutlak dari iman, sehingga seorang yang berdosa besar, dia bukan saja sebagai orang yang berdosa besar, tetapi juga seorang kafir.

Persoalan iman dan kafir merupakan persoalan yang mendorong lahirnya aliran Muktazilah. Menurut aliran ini iman bukan hanya Tasdiq Bil Qolbi, tetapi iman adalah pelaksanaan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Tuhan. Jadi orang yang hanya tasdiq tetapi tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban itu tidak dapat dikatakan mukmin. Tegasnya iman adalah amal, dan iman harus merupakan keaktifan amal karena akal mampu mengetahui kewajiban-kewajiban yang ditetapkan oleh Tuhan.

Menurut Ahlussunnah Wal Jama’ah, bahwa akal manusia tidak mampu untuk melakukan makrifat terhadap Tuhan dan tidak mampu mengetahui kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Tuhan. Manusia dapat mengetahui kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Tuhan hanya melalui wahyu, bahwa ia berkewajiban mengetahui Tuhan dan ia harus menerima sebagai suatu kebenaran. Oleh karena itu iman bagi aliran ini adalah tasdiq. Tasdiq adalah merupakan pengakuan dalam hati yang mengandung pengertian-pengertian makrifat terhadap Allah.

1

Oleh karena itu iman menurut aliran ini hanyalah tasdiq sebab tasdiq itu merupakan hakikat dari iman. Siapa yang mengetahui sesuatu itu benar ia akan membenarkan dengan hatinya. Mengenai Ikrar Bil Lisan (pernyataan dengan lidah) merupakan syarat mutlak bagi iman, tetapi tidak termasuk hakikat iman yaitu tasdiq ini berdasarkan firman Allah dalam Surat An Nahl Ayat 106 :

2

            Ayat ini menuturkan kekafiran yang dengan lidah dalam keadaan terpaksa, sedangkan hatinya tetap membenarkan Tuhan dan Rasulnya, ia tetap sipandang mukmin karena pernyataan lidah itu bukan iman tapi amal yang diluar juz iman.

Kafir bagi Ahlussunnah Wal Jama’ah ialah orang yang tidak membenarkan Tuhan dan Rasulnya baik oleh hati maupun oleh lidahnya. Oleh karena itu orang mukmin yang berdosa besar masih tetap mukmin soal dosa besar yang dilakukannya ditentukan oleh Tuhan di akhirat.

Jika Tuhan memberikan ampunan maka dia akan masuk surga tetapi jika tidak diberi ampunan dia dimasukkan ke neraka dan disiksa sesuai dengan dosa besar yang dilakukannya.

3

            Golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah ini berpendapat bahwa iman itu tasdiq bil qalbi dan ikrar bil lisan. Pembenaran dengan hati saja tidak cukup. Demikian juga pengakuan dengan lisan saja tidak dapat dikatakan iman. Dua unsur tersebut  merupakan unsur tasdiq yang tidak dapat dipisahkan kecuali dalam keadaan terpaksa.

Keterangan diatas memberi petunjuk, bahwa pelaku dosa besar menurut golongan ini tidak kafir dan tidak kekal di neraka. Kalau Tuhan mengampuninya ia bebas dari neraka kalau tidak mendapat ampunan ia masuk neraka tetapi akhirnya dikeluarkan dari neraka dan masuk surga.

Keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa iman itu hanya tasdiq sedangkan ikrar dan amal adalah sifat iman bukan dzat iman. Bila dilihat dari segi dzatnya iman itu tidak dapat bertambah dan berkurang, tetapi jika dari segi sifatnya iman itu bisa bertambah dan berkurang. Orang yang tidak mengakui dengan hati bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasulnya ia dipandang kafir keluar dari mukmin.

Firman Allah yang ada dalam Surat Yunus Ayat 99

4

            Ayat tersebut dipahami oleh salah satu imam dari Ahlussunnah Wal Jama’ah yaitu Imam Maturidi bahwa sebenarnya Allah berkuasa membuat orang yang ada di bumi ini beriman semua tetapi Allah tidak melakukan disebabkan manusia diberi kemerdekaan untuk berkemauan dan berbuat dengan dasar akalnya maka manusia apabila melakukan perbuatan itu adalah kehendak Tuhan namun tidak semuanya mendapat keridhoan Tuhan. Manusia yang melakukan perbuatan baik adalah atas kehendak Tuhan dan diridhoinya. Sebaliknya manakala berbuat jahat maka itu juga kehendak Tuhan (kullun min indillah) tetapi bukan atas ridhonya. Seorang yang menuturkan kekafirannya dengan lidah dalam keadaan terpaksa, sedangkan hatinya tetap membenarkan adanya Tuhan dan Rasulnya ia tetap dipandang mukmin. Kalau pernyataan itu bukan pernyataan iman tetapi amal berada diluar unsur iman. Seorang yang berdosa besar tetap mukmin karena iman tetap berada di hatinya.

Iman dapat bertambah dan berkurang, bertambah dan berkurangnya iman terletak pada keadaan pengakuan hati seorang kepada Allah dan Rasulnya. Dalil naqli yang dipakai oleh aliran ini adalah Surat Anfal Ayat 2

5

            Ayat ini menunjukkan adanya perubahan iman seseorang sebab kalau iman itu tidak bertambah dan berkurang niscaya tidak ada perbedaan iman seseorang yang melakukan maksiat dan melakukan kebaikan seperti para Rasul-Rasul Allah.

Ahlussunnah Wal Jama’ah memandang akal tidak mampu mengetahui kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Tuhan, karenanya iman tidak dapat mengambil bentuk yang sebenarnya dari makrifat atau amal, tetapi harus merupakan tasdiq.

Batasan tentang tasdiq adalah menerima dalam hati dan menyatakan dengan lidah, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusannya Allah, pengakuan secara lisan merupakan salah satu rukun iman. Ahlussunnah Wal Jama’ah mengemukakan argumentasi melalui pendekatan bahasa, bahwa iman  berarti tasdiq sudah barang tentu melalui hati dan lisan. Jadi kedua unsur ini menjadi rukun dari pada iman.

Batasan tasdiq yang disampaikan diatas mengandung arti bahwa seseorang yang beriman harus membenarkan sifat-sifat Tuhan yang sempurna dan membenarkan Nabi-Nabinya serta risalah-risalah yang mereka bawa, pendapat tersebut jauh berbeda dengan Khawarij dan Muktazilah karena golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah ini lebih mementingkan Tasdiq dan Iqrar. Amal bagi mereka tidak mempunyai peranan dalam menentukan mukmin atau tidaknya seseorang.

LITERATUR

–          Al Qur’an

–          Al Hadist

–          Asy’ari Al ibanah ‘An Ushul Al-diyanah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s